Selasa, 22 Desember 2009

Kaligrafi

Al-Qur'an selalu memainkan peranan utama dalam perkembangan tulisan Arab. Keperluan untuk merakam al-Qur'an memaksa memperbaharui tulisan mereka dan memperindahnya sehingga ia pantas menjadi wahyu Ilahi. Kaligrafi yang indah ini membuat banyak orang mengembangkannya dan mempercantiknya kemudian menjadi sesuatu yang apik tuk dipandang.

Asal Mula Kaligrafi

Kaligrafi, dari bahasa Yunani; καλλι "keindahan" + γραφος "menulis" ) Bahasa Jepang Nihongo 日本語) adalah seni menulis dengan indah dengan pena sebagai hiasan. Seni ini diciptakan dan dikembangkan oleh kaum muslim sejak kedatangan Islam.
Tulisan dalam bentuk kaligrafi biasanya tidak untuk dibaca dengan konsentrasi tinggi dalam waktu lama, karena sifatnya yang membuat mata cepat lelah. Karena itulah sangat sulit menemukan contoh kaligrafi sebagai tipografi buku-buku masa kini.
Sebagai bahasa yang memiliki karakter huruf yang lentur dan artistik, huruf Arab menjadi bahan yang sangat kaya untuk penulisan kaligrafi, Sifat uni Alqur-an ini baru terekplorasi dengan baik ditangan kaum Muslim karena pada masa sejarah pra-islam, orang Arab tidak memiliki seni tulis seperti yang dikembangkan oleh orang Arab Muslim.
Kaligrafi sangat berkaitan dengan Al-Quran dan hadis, karena sebagaian besar tulisan indah dalam bahasa Arab menampilkan ayat Al-Quran atau hadis Nabi Muhammad SAW. Penulisan huruf Arab berkembang luar biasa pada masa Ummayyah (661-750 M), khususnya pada masa Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Abdul Malik mengumumkan tulisan Arab sebagai tulisan resmi negara.
Semua dokumen penting ditulis dalam huruf Arab. Dua tulisan baru Arab muncul pada masa ini, yakni tumar dan jalil yang diciptakan oleh kaligrafi ternama Qutbah al-Mihr. Tumar kemudian dijadikan tulisan resmi Ummayyah. Penggunaannya pada awal berdirinya Kerajaan Ummayyah, tulisan kaligrafi digunakan untuk keperluan administrasi negara.
Pada perkembangan selanjutnya, tulisan indah juga digunakan di dinding istana, masjid dan tempat lain. Beberapa buku khusus, seperti Al-Quran, ditulis dengan seni kaligrafi. Tulisan kaligrafi juga ditemukan pada peralatan lain seperti meja, lemari, pedang dan keramik.
Boleh dikatakan bahwa kaligrafi berkembang bersamaan dengan mulai dikenalnya huruf. Pada thn 3.500 SM, orang Mesir menciptakan Hieroglyphics yang berarti simbol-simbol berupa gambar yang berfungsi menyerupai huruf. Hieroglyphics ini disusun seperti kita menyusun kata untuk mengatakan sesuatu. Simbol-simbol ini dilukis pada dinding makam atau ditulis di atas lembaran papyrus.

Jenis-Jenis Kaligrafi

Apa sajakah jenis kaligrafi? Berikut penjelasannya:

a. Kaligrafi Arab

Tiap daerah memiliki sejarah perkembangan kaligrafi yang berbeda-beda. Misalnya Arab, seni kaligrafi di sana berkembang pesat sejak bangsa Arab memeluk agama Islam. Islam melarang ummatnya untuk menggambar manusia atau binatang. Itulah sebabnya mengapa orang Islam banyak menekuni dan mengembangkan kaligrafi sebagai salah satu seni hingga saat ini.
Kaligrafi Islam abad 11 Persia
Di dalam seni rupa Islam, tulisan arab seringkali dibuat kaligrafi. Biasanya isinya disadur ayat-ayat Al-Quran. Bentuknya bermacam-macam, tidak selalu pena diatas kertas, tetapi seringkali juga ditatahkan di atas logam atau kulit.
Salah satu bentuk penerapan kaligrafi Islam sebagai seni hias adalah di Istana Al Hamra, Spanyol.
Kaligrafi adalah salah satu seni dalam Islam, yang banyak dikembangkan sejak zaman dahulu. Fungsinya tentunya bukan sekadar ornamen atau hiasan belaka, namun lebih dari itu, kaligrafi adalah sarana untuk beribadah, berdzikir (karena setiap melihat kaligrafi, kita akan ingat akan Allah SWT). Juga tentu semakin memantapkan hati bahwa Islam memang keren, karena ada seni seindah ini yang tidak ditemukan di tempat lain.
Kaligrafi mengusung fragmen-fragmen penting dalam biografi panjang peradaban Islam. Kaligrafi sebagai manifestasi estetika dan religius menjadi tanda dari ikhtiar manusia untuk mencari dan mencapai sublimitas nilai-nilai tauhid.
KALIGRAFI merupakan seni menulis indah dalam tegangan religiositas, estetika, dan politik. Kaligrafi mengacu pada Alquran sebagai roh dan realisasi karakter estetika religius. Ismail R. Al Faruqi (1986) menilai bahwa kaligrafi adalah manifestasi sublim dari ungkapan estetika religius (tauhid).
Kaligrafi lahir dan tumbuh dalam otoritas religius, legitimasi politis, dan olah estetika sejak Dinasti Ummayah (661--750) sampai pada masa seni kaligrafi kontemporer di negara-negara muslim. Kaligrafi pada masa lalu memiliki pusat-pusat pengaruh di Damaskus, Bagdad, Mesir, Turki, dan Persia. Kaligrafi dalam masa mutakhir mulai menunjukkan karakteristik estetika, sesuai dengan latar kultural dan pengaruh seni rupa modern. Karakter-karakter itu ada dalam seni kaligrafi di pelbagai penjuru pusat-pusat peradaban Islam mulai dari Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, Eropa, dan Asia Tenggara.
Kaligrafi sebagai manifestasi estetika religius tak luput dari tegangan politik dan kultural. Kasus fenomenal dalam eksistensi dan pertumbuhan kaligrafi terjadi di Turki pada abad XX. Tegangan itu merupakan akumulasi dari benturan referensi dan orientasi peradaban. Turki merupakan titik temu dari Timur dan Barat dengan retakan dan rentan konflik. Keputusan politik untuk program sekularisasi dalam spirit Barat membuat seni kaligrafi mengalami represi dan marginalisasi. Kaligrafi dalam konteks politik sekuler adalah juru bicara agama. Peran dan pengaruh kaligrafi pun mendapat tindakan pembungkaman dan pengalihan status sebagai representasi pandangan tradisional atau ortodoks dalam progresivitas pembentukan negara modern.
Jejak-jejak dalam fragmen fenomenal itu dikisahkan dengan apik dalam novel Seniman Kaligrafi Terakhir (La Nuit Les Calligraphes) anggitan Yasmine Ghata. Novel itu merupakan narasi liris dalam perspektif kritis. Kaligrafi dalam masa sekularisasi Turki merupakan korban dalam konteks estetika, religiositas, dan politik. Refleksi kritis mengenai tegangan kaligrafi dalam sekularisasi Turki tampak dalam narasi ini: "Tuhan tidak tertarik pada abjad Latin. Napas-Nya yang padat tidak dapat meluncur di atas huruf-huruf berbentuk pendek tambun yang terpisah-pisah itu. 'Ataturk telah mengusir Tuhan dari negeri ini,' kata para seniman kaligrafi berulang-ulang."
Kaligrafi yang pernah menjadi puncak estetika religius di Turki tiba-tiba sekarat oleh politik dan sekularisasi. Represi dan peminggiran seni kaligrafi pada rezim Ataturk membuat seniman kaligrafi terluka. Seni kaligrafi mengalami nasib apes karena untuk eksis, harus ada di ruang-ruang sempit dan mendapati stigma sebagai momok modernitas.
Keputusan politik untuk menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Latin di Republik Turki pada tahun 1928 menimbulkan benturan-benturan keras. Nasib seni dan seniman kaligrafi pun berada dalam batas tipis hidup dan mati. Tokoh Rikkat (nenek Yasmine Ghata) dalam novel itu menuturkan pertaruhan nasib dari seniman-seniman kaligrafi atas nama estetika religius dalam represi politik dan kultural. Rikkat mengisahkan bahwa politik Ataturk membuat tangan-tangan seniman kaligrafi gemetar. Gemetar itu representasi dari gairah untuk hidup dalam ketakutan dan kebencian. Harga diri menjadi taruhan untuk eksistensi seniman kaligrafi.
Tokoh Selim (guru Rikkat) menjadi juru bicara dari kaum seniman kaligrafi di Turki. Selim adalah seorang saleh, ulet, dan pendiam. Selim memberikan diri dalam seni kaligrafi. Ritual religius adalah basis untuk seni kaligrafi. Ritual dilakukan dengan menciumi Alquran secara khidmat setiap hari. Salim percaya bahwa ketika menulis kaligrafi, berada dalam pengawasan ketat Rasulullah. Seni kaligrafi menjelma sebagai manifestasi keselarasan sabda dan gerakan tangan dalam orientasi tauhid. Represi politik membuat Selim bunuh diri sebagai proteksi dan resistensi. Kematian Selim itu dalam pandangan Rikkat adalah kematian dengan darah dingin.
Kisah tragis Selim menimbulkan pesimitis pada diri Rikkat untuk tekun menjadi seniman kaligrafi atau mengundurkan diri sejak dini. Kondisi zaman itu memberi keraguan bahwa seorang seniman kaligrafi bakal susah hidup makmur karena ekspansi mesin cetak dan kuasa huruf Latin. Pilihan untuk menjadi seniman kaligrafi adalah ilusi mengenaskan. Pesimisme itu mendapatkan jawaban mumpuni dari Rikkat. Dalil untuk menjadi seniman kaligrafi:
1) resistensi kreatif seorang perempuan dalam rumah tangga;
2) ekspresi estetika religius;
3) meneruskan jalan atau alur seniman-seniman kaligrafi di Turki; dan
4) resistensi politis atas sekularisasi.
Kaligrafi dalam biografi tokoh Rikkat mencakup pengetahuan esoteris dan eksoteris. Otoritas Selim dan seniman-seniman tua memberikan gairah untuk Rikkat khusyuk meleburkan diri dalam laku estetika religius. Pengalaman rohani selalu menjadi referensi penting untuk mencecap pengetahuan kaligrafi. Laku dalam menulis kaligrafi menuntut keintiman dan interaksi dalam gairah. Imajinasi (gagasan), peralatan kerja, dan tubuh adalah komponen ketat dalam menulis kaligrafi.
Rikkat percaya bahwa laku religius menjadi basis untuk eksistensi seniman kaligrafi. Laku menulis kaligrafi menjadi akumulasi dari puncak ekspresi estetika religius dalam tegangan politik dan kultural.
Biografi Rikkat dalam novel itu merepresentasikan sekian perkara pelik dalam seni kaligrafi. Rikkat sebagai perempuan menjadi fenomena minoritas dalam tradisi seni kaligrafi. Rikkat sadar diri dalam posisi sebagai perempuan, tapi kompetensi dan kapasitas membuat dirinya sanggup menempati posisi puncak sebagai seniman kaligrafi kontemporer papan atas. Rikkat juga harus menghadapi tegangan dalam kehidupan keluarga.
Ikhtiar menjadi seniman kaligrafi mungkin jadi alasan instrumental dari dua kegagalan kehidupan rumah tangga Rikkat. Sekularisasi menjadi godaan besar untuk Rikkat menentukan putusan menjadi seniman kaligrafi atau mengundurkan diri dengan naif. Kondisi politik dan kebudayaan pun memberi tegangan untuk menekuni seni kaligrafi dalam ekstase estetika religius.
Kaligrafi sebagai tanda besar dalam sejarah peradaban Islam menemukan godaan-godaan mutakhir dalam abad-abad modern. Kaligrafi di Turki menjadi representasi pertarungan dan tegangan estetika, religiositas, dan politik. Annemarie Schimmel (1992) mengungkapkan bahwa kaligrafi dalam sejarah awal Islam adalah puncak pemahaman atas berkah huruf-huruf suci dalam Alquran. Tradisi estetika religius itu perlahan mengalami pergulatan-pergulatan dalam konteks politik dan kultural. Kaligrafi menjadi akumulasi dari kompleksitas referensi dan orientasi dari alur tradisionalitas sampai modernitas. Begitu.

b. Kaligrafi China

China memiliki sejarah yang berbeda lagi. Tak seorangpun tau secara pasti kapan kaligrafi mulai muncul di China. Namun, ada legenda yang mengatakan bahwa kaligrafi di China mulai dikenal pada masa Kuning, Pada saat itu bahasa China mulai disusun oleh seorang yang bernama Cang Jie. Seni kaligrafi di China muncul setelah bahasa China lahir. Konon peristiwa itu terjadi sekitar 4.600 tahun yang lalu.




Menilai Kaligrafi

Tiap daerah memiliki cara sendiri untuk menilai keindahan kaligrafi. Kaligrafi Arab terkenal keindahan dan kerumitan bentuknya. Sedangka kaligrafi China dan Jepang memasukkan perasaan penulisnya ke dalam kaligrafi. Perasaan penulis ini bisa dilihat dari hasil goresan tinta di atas kertas.
Tebal tipis tinta dan halus kasarnya sapuan kuas menunjukkan keadaan jiwa pembuatnya. Kaligrafi syair cinta yg ditulis orang berjiwa lembut dan tenang biasanya halus hasilnya. Jika kita baca syairnya serta menikmati indahnya kaligrafi, maka akan terasa nyaman.
Itulah mengapa sebagian ahli kaligrafi china biasanya menenangkan pikiran dan berkonsentrasi sebelum mulai menulis. Ahli kaligrafi itu biasanya langsung menyapukan kuas diatas kertas sekali jadi.

Isi Kaligrafi

Kata atau kalimat yang dibuat kaligrafi biasanya berisi kata atau kalimat yang punya arti penting, misalnya kalimat yang mengagungkan kebesaran Tuhan, kata-kata mutiara, Pepatah, dan lain sebagainya dimana dalam kaligrafi tersebut tercermin sebuah pesan yang disampaikan pelukis untuk para penikmatnya.



Alat dan Media Kaligrafi

Alat yang digunakan untuk membuat kaligrafi bermacam-macam tergantung medianya. Yang dimaksud media kaligrafi misalnya kertas, kayu, batu dan bahan lainnya.
Kaligrafi yang dibuat di atas kertas menggunakan tinta yang disapukan dengan kuas atau digoreskan dengan pena. Baik kuas maupun pena, keduanya memiliki banyak jenis dan ukuran. Pegangan kuas biasa terbuat dari bambu atau kayu, sedangkan kepala kuas bisa dibuat dari bulu binatang seperti srigala,kelinci, kijang dan ekor kuda.
Kaligrafi yang dibuat di atas batu menggunakan media pahat.


Melihat betapa menariknya kaligrafi, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa seni yang satu ini memang sangat luar biasa baik dari segi sejarah, jenis, teknik, isi, memiliki kekhasan yang berbeda-beda. Dimasing-masing penggarapannya, tentu saja pelukisnya harus memiliki kesabaran, ketekunan, dan tentu saja membutuhkan keuletan dalam pengerjaannya. Selain hasil yang memuaskan dari kaligrafinya, kaligrafi juga baik untuk menguji kesabaran pelukisnya.

Melihat dari segi keindahan dan keunikan dari kaligrafi itu sendiri tentunya memiliki kesan tersendiri dari orang banyak. Kesan kagum pada seseorang yang mampu melukiskannya dengan indah tentu saja akan menimbulkan rasa bangga dan melestarikan kaligrafi agar tetap dikenang sebagai sesuatu yang indah dan bernilai seni yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar